Senin, 30 Juni 2014

Daerahku yang Tertinggal




Kabupaten Sambas, daerah asalku yang tercinta. 

Sambas banyak memiliki ragam budaya dan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari yang terkenal yaitu jeruk tebas, salak sekura, tenun sambas, sawit, karet dan banyak lagi lainnya.Hal ini sebenarnya membuat kita kaya dan berbangga hati, namun di balik kekayaan daerah kita tersebut ternyata masih belum bisa di katakan sepenuhnya baik, kenapa ? karena kabupaten sambas memiliki HDI ( Human Development Indeks ) urutan ke 14 dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan barat. Apakah ini sebuah prestasi ? tentu ini adalah sebuah keprihatinan kita bersama, karena memiliki indeks pembangunan manusia terendah. Hal ini sebaiknya bisa membuka hati dan fikiran kita, untuk membuat sesuatu yang bisa di berikan untuk daerah tercinta ini , khususnya pemuda dan mahasiswa sambas itu sendiri. HDI yang menjadi predikat kabupaten sambas sekarang jangan hanya di keluhkan, namun kita cari solusinya. Masalah pendidikan dan kesehatan yang akan terfokus dalam pembahasan kali ini.

Pendidikan  merupakan  kebutuhan  dasar  dan  usaha  sadar  untuk  menyiapkan  peserta didik melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran atau latihan  bagi  peranannya  di  masa  yang akan  datang. Kesejahteraan masyarakat akan bisa terbentuk ketika sudah berhasil dalam bidang pendidikan, karena kemudahan akses dan lowongan pekerjaan akan mudah di dapat nantinya. Sebuah gambaran yang memprihatinkan adalah kondisi pendidikan dasar di salah satu kecamatan di kabupaten sambas yaitu kecamatan Sajingan Besar, merupakan kawasan perbatasan langsung dengan Biawak, Malaysia Timur atau berada kilometer 90 dari Ibukota Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tapi kondisi jalan perbatasan yang terjal dan berlubang membuat daerah tersebut terisolir yang berujung buruknya mutu pendidikan. Seperti kekurangan tenaga guru sampai tingginya angka putus sekolah.
Perbatasan Kecamatan Sajingan Besar memiliki 1.519 siswa dari 13 sekolah dengan 76 lokal SD se-Kecamatan Sajingan. Sementara tenaga pengajar hanya berjumlah 77 orang. Bahkan ada guru yang mengajar empat mata pelajaran. Ditambah lagi tunjangan guru yang sering telat dibayar karena akses jalan yang buruk.Tenaga guru honorer yang belum diangkat. Insentif yang kurang bagi guru yang di tempatkan di pedalaman. Sehingga mereka lari dari daerah tersebut. Syarat yang tak realistis dan diterapkan bagi para pendidik. Buruknya infrastruktur juga berdampak kepada semangat siswa bersekolah menurun. Di Kecamatan Sajingan banyak siswa jarak dari rumahnya ke sekolah menempuh perjalanan jalan kaki 2-3 jam perjalanan. Banyaknya permasalahan yang timbul akibat buruknya infrastruktur bukanlah suatu masalah yang tidak bisa di atasi, jika pemerintah daerah sudah bisa fokus untuk perlahan mengatasi masalah yang menjadi momok di masyarakat.
Bukan hanya masalah pendidikan, namun masalah kesehatan juga menjadi pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat dan IPM daerah kabupaten sambas. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kabupaten sambas Sejak Januari hingga Mei 2005 tercatat sebanyak 176 balita mengalami gizi buruk dan pada tahun 2013 di dapati 23 kasus gizi buruk yang telah di tangani. Kasus gizi buruk ini adalah karena faktor ekonomi rendah dan pengetahuan yang kurang tentang kesehatan.
Semua permasalahan di atas sangatlah kompleks, bagaimana sebuah daerah mampu berkembang baik jika kunci dasarnya saja masih bermasalah. Hal ini yang membuat kami menjadi sangat prihatin dan berinisiatif untuk membuat sebuah komunitas “ Kami Peduli Sambas “ yaitu perkumpulan mahasiswa aktif ataupun sudah lulus kuliah, khususnya bagi semua mahasiswa FKIP dan mahasiswa kesehatan yang berasal dari kabupaten sambas untuk bisa mengabdikan diri untuk setiap daerah terisolir dan yang terpencil. Kenapa terfokus kepada mahasiswa ? karena banyak mahasiswa yang berasal dari sambas yang sudah lulus kuliah lebih memilih untuk mengabdi atau menetapkan diri untuk bekerja di kota besar seperti Pontianak. Sehingga daerah tetaplah menjadi daerah tertinggal. Melalui komunitas “ Kami Peduli Sambas “ akan di tanamkan jiwa cinta daerah sendiri, mengabdi kepada masyarakat, memperbaiki dan mananggulangi secara perlahan untuk semua kasusu yang telah di paparkan di atas. Kegiatan dapat berupa pengabdian untuk menjadi guru di daerah perbatasan dan terisolir yang minim tenaga pengajar, pengabdian untuk kesehatan masyarakat, tenaga promosi kesehatan, dan pengawasan terhadap setiap masalah kesehatan. Impian ini bukan hanya sekedar harapan, namun keinginan yang nantinya dapat terealisasi, tentunya berharap pula mendapat dukungan serta kerjasama dari pemerintah daerah setempat.

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Senin, 30 Juni 2014

Daerahku yang Tertinggal




Kabupaten Sambas, daerah asalku yang tercinta. 

Sambas banyak memiliki ragam budaya dan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari yang terkenal yaitu jeruk tebas, salak sekura, tenun sambas, sawit, karet dan banyak lagi lainnya.Hal ini sebenarnya membuat kita kaya dan berbangga hati, namun di balik kekayaan daerah kita tersebut ternyata masih belum bisa di katakan sepenuhnya baik, kenapa ? karena kabupaten sambas memiliki HDI ( Human Development Indeks ) urutan ke 14 dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan barat. Apakah ini sebuah prestasi ? tentu ini adalah sebuah keprihatinan kita bersama, karena memiliki indeks pembangunan manusia terendah. Hal ini sebaiknya bisa membuka hati dan fikiran kita, untuk membuat sesuatu yang bisa di berikan untuk daerah tercinta ini , khususnya pemuda dan mahasiswa sambas itu sendiri. HDI yang menjadi predikat kabupaten sambas sekarang jangan hanya di keluhkan, namun kita cari solusinya. Masalah pendidikan dan kesehatan yang akan terfokus dalam pembahasan kali ini.

Pendidikan  merupakan  kebutuhan  dasar  dan  usaha  sadar  untuk  menyiapkan  peserta didik melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran atau latihan  bagi  peranannya  di  masa  yang akan  datang. Kesejahteraan masyarakat akan bisa terbentuk ketika sudah berhasil dalam bidang pendidikan, karena kemudahan akses dan lowongan pekerjaan akan mudah di dapat nantinya. Sebuah gambaran yang memprihatinkan adalah kondisi pendidikan dasar di salah satu kecamatan di kabupaten sambas yaitu kecamatan Sajingan Besar, merupakan kawasan perbatasan langsung dengan Biawak, Malaysia Timur atau berada kilometer 90 dari Ibukota Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tapi kondisi jalan perbatasan yang terjal dan berlubang membuat daerah tersebut terisolir yang berujung buruknya mutu pendidikan. Seperti kekurangan tenaga guru sampai tingginya angka putus sekolah.
Perbatasan Kecamatan Sajingan Besar memiliki 1.519 siswa dari 13 sekolah dengan 76 lokal SD se-Kecamatan Sajingan. Sementara tenaga pengajar hanya berjumlah 77 orang. Bahkan ada guru yang mengajar empat mata pelajaran. Ditambah lagi tunjangan guru yang sering telat dibayar karena akses jalan yang buruk.Tenaga guru honorer yang belum diangkat. Insentif yang kurang bagi guru yang di tempatkan di pedalaman. Sehingga mereka lari dari daerah tersebut. Syarat yang tak realistis dan diterapkan bagi para pendidik. Buruknya infrastruktur juga berdampak kepada semangat siswa bersekolah menurun. Di Kecamatan Sajingan banyak siswa jarak dari rumahnya ke sekolah menempuh perjalanan jalan kaki 2-3 jam perjalanan. Banyaknya permasalahan yang timbul akibat buruknya infrastruktur bukanlah suatu masalah yang tidak bisa di atasi, jika pemerintah daerah sudah bisa fokus untuk perlahan mengatasi masalah yang menjadi momok di masyarakat.
Bukan hanya masalah pendidikan, namun masalah kesehatan juga menjadi pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat dan IPM daerah kabupaten sambas. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kabupaten sambas Sejak Januari hingga Mei 2005 tercatat sebanyak 176 balita mengalami gizi buruk dan pada tahun 2013 di dapati 23 kasus gizi buruk yang telah di tangani. Kasus gizi buruk ini adalah karena faktor ekonomi rendah dan pengetahuan yang kurang tentang kesehatan.
Semua permasalahan di atas sangatlah kompleks, bagaimana sebuah daerah mampu berkembang baik jika kunci dasarnya saja masih bermasalah. Hal ini yang membuat kami menjadi sangat prihatin dan berinisiatif untuk membuat sebuah komunitas “ Kami Peduli Sambas “ yaitu perkumpulan mahasiswa aktif ataupun sudah lulus kuliah, khususnya bagi semua mahasiswa FKIP dan mahasiswa kesehatan yang berasal dari kabupaten sambas untuk bisa mengabdikan diri untuk setiap daerah terisolir dan yang terpencil. Kenapa terfokus kepada mahasiswa ? karena banyak mahasiswa yang berasal dari sambas yang sudah lulus kuliah lebih memilih untuk mengabdi atau menetapkan diri untuk bekerja di kota besar seperti Pontianak. Sehingga daerah tetaplah menjadi daerah tertinggal. Melalui komunitas “ Kami Peduli Sambas “ akan di tanamkan jiwa cinta daerah sendiri, mengabdi kepada masyarakat, memperbaiki dan mananggulangi secara perlahan untuk semua kasusu yang telah di paparkan di atas. Kegiatan dapat berupa pengabdian untuk menjadi guru di daerah perbatasan dan terisolir yang minim tenaga pengajar, pengabdian untuk kesehatan masyarakat, tenaga promosi kesehatan, dan pengawasan terhadap setiap masalah kesehatan. Impian ini bukan hanya sekedar harapan, namun keinginan yang nantinya dapat terealisasi, tentunya berharap pula mendapat dukungan serta kerjasama dari pemerintah daerah setempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar