Kabupaten Sambas,
daerah asalku yang tercinta.
Sambas banyak memiliki
ragam budaya dan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari yang terkenal yaitu
jeruk tebas, salak sekura, tenun sambas, sawit, karet dan banyak lagi
lainnya.Hal ini sebenarnya membuat kita kaya dan berbangga hati, namun di balik
kekayaan daerah kita tersebut ternyata masih belum bisa di katakan sepenuhnya
baik, kenapa ? karena kabupaten sambas memiliki HDI ( Human Development Indeks
) urutan ke 14 dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan barat. Apakah ini
sebuah prestasi ? tentu ini adalah sebuah keprihatinan kita bersama, karena
memiliki indeks pembangunan manusia terendah. Hal ini sebaiknya bisa membuka
hati dan fikiran kita, untuk membuat sesuatu yang bisa di berikan untuk daerah
tercinta ini , khususnya pemuda dan mahasiswa sambas itu sendiri. HDI yang
menjadi predikat kabupaten sambas sekarang jangan hanya di keluhkan, namun kita
cari solusinya. Masalah pendidikan dan kesehatan yang akan terfokus dalam
pembahasan kali ini.
Pendidikan merupakan
kebutuhan dasar dan
usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran atau latihan bagi peranannya
di masa yang akan
datang. Kesejahteraan masyarakat akan bisa terbentuk ketika sudah
berhasil dalam bidang pendidikan, karena kemudahan akses dan lowongan pekerjaan
akan mudah di dapat nantinya. Sebuah gambaran yang memprihatinkan adalah kondisi
pendidikan dasar di salah satu kecamatan di kabupaten sambas yaitu kecamatan
Sajingan Besar, merupakan kawasan perbatasan langsung dengan Biawak, Malaysia
Timur atau berada kilometer 90 dari Ibukota Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Tapi kondisi jalan perbatasan yang terjal dan berlubang membuat daerah tersebut
terisolir yang berujung buruknya mutu pendidikan. Seperti kekurangan tenaga
guru sampai tingginya angka putus sekolah.
Perbatasan Kecamatan
Sajingan Besar memiliki 1.519 siswa dari 13 sekolah dengan 76 lokal SD
se-Kecamatan Sajingan. Sementara tenaga pengajar hanya berjumlah 77 orang.
Bahkan ada guru yang mengajar empat mata pelajaran. Ditambah lagi tunjangan
guru yang sering telat dibayar karena akses jalan yang buruk.Tenaga guru
honorer yang belum diangkat. Insentif yang kurang bagi guru yang di tempatkan
di pedalaman. Sehingga mereka lari dari daerah tersebut. Syarat yang tak
realistis dan diterapkan bagi para pendidik. Buruknya infrastruktur juga
berdampak kepada semangat siswa bersekolah menurun. Di Kecamatan Sajingan
banyak siswa jarak dari rumahnya ke sekolah menempuh perjalanan jalan kaki 2-3
jam perjalanan. Banyaknya permasalahan yang timbul akibat buruknya
infrastruktur bukanlah suatu masalah yang tidak bisa di atasi, jika pemerintah
daerah sudah bisa fokus untuk perlahan mengatasi masalah yang menjadi momok di
masyarakat.
Bukan hanya masalah
pendidikan, namun masalah kesehatan juga menjadi pengaruh besar terhadap
kesejahteraan masyarakat dan IPM daerah kabupaten sambas. Berdasarkan data dari
Dinas Kesehatan kabupaten sambas Sejak Januari hingga Mei 2005 tercatat
sebanyak 176 balita mengalami gizi buruk dan pada tahun 2013 di dapati 23 kasus
gizi buruk yang telah di tangani. Kasus gizi buruk ini adalah karena faktor ekonomi
rendah dan pengetahuan yang kurang tentang kesehatan.
Semua permasalahan di
atas sangatlah kompleks, bagaimana sebuah daerah mampu berkembang baik jika
kunci dasarnya saja masih bermasalah. Hal ini yang membuat kami menjadi sangat
prihatin dan berinisiatif untuk membuat sebuah komunitas “ Kami Peduli Sambas “
yaitu perkumpulan mahasiswa aktif ataupun sudah lulus kuliah, khususnya bagi
semua mahasiswa FKIP dan mahasiswa kesehatan yang berasal dari kabupaten sambas
untuk bisa mengabdikan diri untuk setiap daerah terisolir dan yang terpencil. Kenapa
terfokus kepada mahasiswa ? karena banyak mahasiswa yang berasal dari sambas
yang sudah lulus kuliah lebih memilih untuk mengabdi atau menetapkan diri untuk
bekerja di kota besar seperti Pontianak. Sehingga daerah tetaplah menjadi
daerah tertinggal. Melalui komunitas “ Kami Peduli Sambas “ akan di tanamkan
jiwa cinta daerah sendiri, mengabdi kepada masyarakat, memperbaiki dan
mananggulangi secara perlahan untuk semua kasusu yang telah di paparkan di
atas. Kegiatan dapat berupa pengabdian untuk menjadi guru di daerah perbatasan
dan terisolir yang minim tenaga pengajar, pengabdian untuk kesehatan
masyarakat, tenaga promosi kesehatan, dan pengawasan terhadap setiap masalah
kesehatan. Impian ini bukan hanya sekedar harapan, namun keinginan yang
nantinya dapat terealisasi, tentunya berharap pula mendapat dukungan serta
kerjasama dari pemerintah daerah setempat.







0 komentar:
Posting Komentar