artikel ini terinspirasi saat ada adik sepupu saya yang curhat,,bagaimana pandangan islam tentang cinta,,kalau kita mecurahkan isi hati kepada lawan jenis atau yang bukan mahram kita,,sayaa jujur ilmu masih cetekk,yaa mgkin dari artikel ini bisa dapat gambaran....
Manajemen Qalbu - Mengatasi Rasa Cinta Pada Lawan Jenis
Bismillahirrahmanirrahim
Kali
ini kami mau kreatif dikit, akhir-akhir ini lebih seneng comot artikel
kanan-kiri ketimbang nulis sendiri. Udah lama gak ngaji kadang membuat
kita sudah kehilangan ide dan ilmu tentang sesuatu yang harus ditulis.
Well, tema tulisan kami kali ini adalah permasalahan yang sering kami
alami. Biasalah anak muda, masalahnya adalah perkara-perkara yang
berhubungan dengan sekolah, pergaulan, dan yang terakhir adalah cinta.
Ketika ditanya cinta itu apa? Tiap orang masing-masing punya definisi
tentang hal itu.
PENYEBAB DAN DEFINISI CINTA
Cinta dalam
definisi saya, adalah perasaan keterikatan pada sesuatu yang membuat
kita tidak ingin meninggalkannya dan tidak ingin kehilangannya
selama-lamanya. Well, sekilas terlihat wajar bila kita merasakan hal ini
pada lawan jenis. Tapi, tidak buatku. Adalah tidak wajar bila rasa
seperti ini muncul dalam diri manusia. Tapi faktanya, dari sirah-sirah
nabawiyah yang pernah saya baca, Rasulullah juga merasakan cinta yang
begitu dalam pada istri-istrinya, terutama Khadijah binti Khuwailid
Radhiallahu anha. Lalu? Kenapa menurutku ini tidak wajar? Hal ini tidak
terlepas dari keyakinan kita. Karena Allah-lah yang kekal abadi
selamanya. Coba buka surah Ar-Rahman ayat 26-27, Kullu man alaihaa faan,
wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikraam. Semua yang ada di bumi
itu akan binasa, Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan. Lalu dalam hatiku bertanya-tanya, mengapa Allah
menciptakan perasaan cinta kepada manusia itu untuk kita? coba buka lagi
surah Ali Imran ayat 14, zuyyina linnasi hubbus syahawaati
minannisaa…Dzalika mata’ul hayatiddunya, wa lillahi indahu husnul
maab~…Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa
yang diingini, yaitu wanita-wanita,dsb~…Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Kita
harus meyakini, bahwa apa yang kita jalani di dunia ini hanya
sementara, jadi kesenangan hidup yang kita rasakan juga hanya sementara.
Well, ini bukan hanya sebatas mencintai, tapi juga dalam memahami arti
mengapa kita harus mencintai. Alasan apa yang bisa membuat kita
mencintai? Tidak akan mungkin semua terjadi tanpa alasan yang jelas.
Well, buat beberapa orang, mereka memaknai cinta pada lawan jenis
sebagai hal yang wajar, dan mereka lupa bahwa ktia seharusnya menjaga
pandangan sebagai mana isi dalam surah An Nur ayat
30-31~…Qullilmu’minina yaghuddluu min abshorihim~…Qullilmu’minati
yaghuddluu min abshorihinna~…Artinya sama Katakan pada laki2/perempuan
beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya. Akhirnya apa? Mereka
seenaknya saja bergaul dengan lawan jenisnya, tanpa memperhatikan
kaidah-kaidah bergaul yang sesuai dengan syariat Islam.
Orang-orang
pasti ada yang berkata, kenapa sih mesti begitu strict dengan hal
seperti ini? Ini hal yang penting. Mengapa? Karena dari pergaulan
campuran ini bisa terjadi fitnah yang begitu besar. Rasulullah pernah
bersabda, tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah wanita(HR.
Bukhari). Tapi saya heran, kadang orang mengacuhkan kaidah-kaidah untuk
berhubungan dengan lawan jenis dalam hal bicara, dsb. Padahal dengan
begitu mereka bisa terjatuh kedalam fitnah/cobaan yang begitu besar.
Yang kalau terjatuh sangat fatal akibatnya.
Well,
semuanya kembali ke diri kita masing. Apa kita mau mengikuti sunnah
Rasulullah dalam menjaga hubungan kita sesama manusia, tanpa mesti
terjatuh yang kepada fitnah. Saya juga cuma bisa berusaha untuk sekuat
tenaga menghindari pergaulan-pergaulan seperti ini, terlebih lagi berada
dalam lingkungan negara non-muslim, dimana hal-hal ini(pergaulan
ikhtilat) adalah hal yang sangat biasa.
Ketika
kita menulis tentang mengapa pergaulan dengan lawan jenis itu mesti
dibatasi, tapi sebagian orang pasti bakal bilang, itu urusanmu yang gak
mampu kontrol diri dong. Jangan salahkan kami yang bergaul dengan lawan
jenis, yang tidak sampai punya rasa pada mereka. Well, simpelnya mikir
pake akal sih emang kayak gitu yah. Tapi disisi dalil menyatakan tidak.
Karena itu ana mempaparkan beberapa dalil tentang hal itu. Tapi
sayangnya masih aja ada yang nyeleneh or membangkang. Dengan alasan yang
sama orang akan berkata ‘lu aja yang terlalu strict dan fanatik dalam
beragama’. Kadang pengen rasanya bilang, “emangnya kalian dapat apa dari
pergaulan campuran? emangnya kita dibagi2in duit apa?”, karena emang
gak makanya ana gak nanya.
Faktanya,
mereka yang melakukan pergaulan campuran belum pasti melakukan pacaran.
Well, di zaman jahiliyah ana dulu, ana menganggap bahwa tanpa pacaran
pun kita bisa dekat dengan cewek ’serius ana gak bohong’. Alhamdulillah,
ana emang dari dulu jarang bergaul ama cewek, disebabkan kesibukan
bergaul dengan dunia maya a.k.a dunia game online. Tapi sayangnya gak
menutupi kemungkinanku untuk terpikat pada wanita. Wajarlah, namanya
juga laki-laki. Untung aja bergaul dengan lelaki kebanyakan gak
menjadikanku maho (alias manusia homo).
Dan
dengan bodohnya, karena didorong oleh keinginan luhur, dengan mudahnya
ana mengatakan cinta pada beberapa wanita. Sampai suatu ketika, ada
seorang yang menurut ana fasiq (karena jarang ana lihat shalat) menegur
ana dan mengatakan, ngapain kamu melakukan hal seperti itu? Itu gak
boleh. Menyatakan cinta pada lawan jenis, tanpa ada niat menikahinya itu
‘haraam’. Ana jadi tertegun dan merasa tertegur pada kata-katanya. Dia
yang fasiq aja punya keyakinan gitu. Masa ana yang shalatnya gak pake
bolong-bolong malah nembak cewek yang ana suka sih?*merasa berdosa.com
Sejak
saat itu, kami menganggap, jatuh cinta adalah aib yang mesti tutupi,
dan jangan sampai biarkan orang lain tahu, apalagi sampai menyatakan
cinta pada si target, kecuali ada niatan untuk menikahi si target.
Mungkin kelihatannya bodoh, tapi ideologi ini lebih enak buat dipegang
daripada mesti menyatakan cinta pada wanita yang belum pantas untuk
menerima kata-kata cinta tersebut. Lalu, bagaimana kita semestinya
bersikap ketika jatuh cinta? Sabar, shalat, shaum…3 solusi terbaik untuk
mengatasi cinta pada lawan jenis. Karena Rasulullah sendiri berpesan,
bahwa tidak ada fitnah yang lebih berat daripada fitnah wanita. Jadi gak
semudah itu kita melepaskan diri dari cobaan yang berat ini. Kuncinya
bukan pada orang lain, tapi pada diri kita sendiri.
KERUGIAN PACARAN? Inilah kerugian-kerugiannya:
Rugi Duit
Hal
yang satu ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun yang pernah
merasakannya, maupun yang mengamatinya*termasuk saya*.Terkadang saya
pengen tanya ama mereka yang pacaran,ngetraktir pacar tuh duit mu dapet
dari mana?beli pulsa duit dari mana?Terus kalau jalan-jalan dapet duit
dari mana?Yang paling parahnya, ada juga yang sampai membeli
perhiasan,hape,dan sebagai macam. Coba bayangin kalo putus?Wah, rugi
banget dong. Duit anda habis, dan anda ditinggalkan. Sayangnya masih ada
lelaki atau wanita bodoh yang mau dimanfaatkan sama pacar yang seperti
ini. Mereka tahu pacar mereka suka bermain2 dengan pasangan tapi malah
tetap dipacarin. Seperti terhipnotis aneh oleh wajah si pacar yang
ganteng atau cantik, atau mungkin aja seksi. Dan yang bikin heboh orang
dengan IQ jenius pun bisa jadi bodoh dihadapan lawan jenis. :D
Padahal
orang yang pintar pasti akan memanfaatkan duitnya untuk hal-hal yang
bermanfaat. Ambil saja yang paling gampang dan udah banyak dilakukan
anak muda. Beli buku kek, sedekah kek infaq kek. Yah kalau orangnya
visioner banget, pasti udah mikirin duitnya buat naik haji atau umrah
*kagum banget kalau ada yang kayak gitu*. Satu lagi yang jadi masalah,
banyak pemuda merasa sok kaya dan menggunakan harta benda orang tuanya
untuk menggaet wanita. Naudzubillah deh…*untung saya gak kayak gitu*
Rugi Waktu
Well,
yang satu ini masih banyak yang nyangkal. Mereka akan berkata masih
bisa menyeimbangkan.Hal ini cukup bodoh untuk dikatakan sebenarnya,
mungkin karena mereka kurang mengerti akan keefisiensian waktu.Coba
bayangkan berapa banyak waktu yang anda habiskan untuk orang yang belum
tentu anda nikahi?Rugi banget lah. Ada juga tuh yang rela mengantar dan
menjemput pacarnya dan blablabla jadilah coco crunch!#garing banget.
Padahal
waktu anda pacaran itu bisa anda gunakan untuk hal lain yang lebih
bermanfaat.Contoh:baca,makan,jogging,surfing*sambil nyari ilmu
bermanfaat,belajar,nulis blog,dll.Atau anda juga bisa mendaftar sebagai
laskar jihad di palestina kalau udah kuat keyakinannya. Intinya, amar
ma’ruf nahi mungkar lah. Bukankah dalam satu hadits Rasulullah, salah
satu yang mendapat naungan Allah adalah pemuda yang tumbuh dengan
ketaatan pada Allah. Masa malah merugikan diri dengan pacar gitu? Halah,
rugi.
Rugi Perasaan
Yang
namanya orang pernah pacaran, pasti pernah merasakan yang namanya
perasaan possessive.Lagi ngapain,lagi dimana,lagi ama siapa,udah makan
belum,udah tidur belum,lama2 bakal nanya cucian belakang udah di jemur
belum? Pusing amat sih.Bayangin hidup anda dikontrol oleh seseorang yang
belum tentu jadi istri anda kelak.Kalau emak saya yang kayak gitu sih
wajar aja. Tapi kalau yang kayak gitu orang yang bukan mahram ente pasti
lama-lama risih juga.Belum lagi yang ampe putus,atau yang ada orang
ketiga,keempat,kelima,keenam,atau ketujuhnya.Berapa banyak persenan
perasaan yang telah anda curahkan menentukan rasa sakit hati anda. Anda
telah menaruh cinta,perhatian,hati,jantung,limpa,usus,*seperti yang
dilakukan oleh penjual coto kepada coto anda* padanya. Anda perlu
membayangkan betapa sakit hatinya anda ketika anda harus putus pada
pacar yang telah bersama anda selama 3~6 tahun lalu akhirnya putus dan
ditinggal nikah.Dengan alasan yang sangat masuk akal pula, Ortu tidak
menyetujui~.
Padahal
sedalam-dalamnya cinta haruslah cinta kepada Allah yang diutamakan.
Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu
ta’ala ’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan
setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya.
Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena
dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya
itu menuju yang ia niatkan’” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksudnya,
Jangan sampai kita itu hanya mengharapkan wanita itu hanya karena
keinginan saja. Karena jika kita hanya mengharapkan wanita karena
keinginan, ketika wanita itu tidak ada lagi, maka kita akan kehilangan
Allah juga. Tapi bila kita mengharapkan wanita itu karena Allah, tentu
walaupun kita kehilangan dia, kita masih mempunyai Allah yang menemani
kita. Tidak akan ada istilah rugi perasaan.
Rugi *maaf* ‘Kesucian’
Yang
ini sebenarnya khusus buat wanita. Tahukah anda mengapa Hawa istri dari
Nabi Adam Alaihissalam memakan buah khuldi?Karena bujukan syaitan
dong.Apa syaitan bujuknya serta merta langsung dia makan?Nggak lah.Dia
pelan-pelan mempengaruhi,awalnya dengan alasan masuk akal sehingga
diterima pendengar(korban maksudnya) dan akhirnya terjatuhlah kedalam
jebakan dia. Sama dengan hal nya pacaran,tadinya cuma mau
pacaran,awalnya pegang2an,terus cium2an,yang kalau diteruskan tulisan
ini bisa tidak lulus sensor. Percayalah untuk membuka sebuah kaleng susu
dibutuhkan melobangi satu sudut kecil. Dan dari sudut inilah lobang itu
akan terbuka lebar. Begitu pula dengan bujukan syaithan yang terkutuk.
Rugi Karena Kehilangan Kesempatan Untuk Dekat Dengan Allah
Dari kerugian-kerugian yang saya sebutkan diatas,anda dijamin telah kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Allah.
-Waktu anda telah tersita,padahal anda bisa melakukannya untuk mempelajari ilmu agama,dll
-Duit anda telah tersita, padahal anda punya kesempatan untuk bersedekah pada banyak orang miskin dan fakir.
-Perasaan anda telah tersita, padahal perasaan kita seharusnya senantiasa cinta hanya pada Allah dan RasulNya.
-Kesucian
anda mungkin akan ternodai, padahal anda seharusnya menyimpannya untuk
pasangan anda kelak,dan ketahuilah bahwa menikah adalah ibadah.Why?
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda:
“Apabila
seseorang telah melaksanakan pemikahan, maka sempumalah separuh
agamanya. Maka bertaqwalah (takutlah) kepada Allah terhadap separuh yang
lain.”
dan
“Menikah
adalah sunnahku, barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk
dari golonganku (ummat nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam,
pent)” (HR. Ibn Majah no. 1846. Shohih Jami’ As Shoghir no. 6807).
dan
MASIH banyak lagi
SOLUSINYA?
Mungkin kita akan berpikir, kenapa gak boleh ini dan itu. Lalu apa
solusi yang kamu tawarkan untuk hal itu? Berikut ini kami jabarkan
beberapa solusi yang bisa dilakukan.
Yang Pertama, Menikah.
Jika
anda yang sekarang sedang pacaran, HTS-an, atau apapun istilahnya, dan
saling mencintai, maka anjuran yang satu ini adalah yang paling
dianjurkan oleh Rasulullah.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Wahai para pemuda, barangsiapa
yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu,
maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”(HR
Bukhari dan Muslim)
Kalau
secara bahasa sih baa-ah berarti jima(hubungan suami istri). Tapi
menurut para ulama, baa-ah disini juga berarti kemampuan untuk
memberikan nafkah. Ya emang bener sih, tujuan dari nikah itu sendiri kan
bukan hanya jima. Tapi juga untuk membuat hidup lebih hidup*serasa
kata-kata iklan rokok. Hal ini yang banyak disalahpahami sebagian
pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada ortunya. Padahal sesuap nasi saja
masih ngemis pada ortunya. *mudah2an saya gak kayak gitu kelak, Aamiin*
Tapi
jangan salah, nikah itu gak mesti sama orang yang antum cintai. Karena
tujuan nikah tersebut bukan hanya menyenangkan mata dan hati. Tapi
karena itu adalah ibadah dan sunnah Rasulullah. Tapi kita tetap
dianjurkan untuk mencari yang kita sukai. Selain bisa menjamin
keutuhannya, juga bisa lebih enjoy dan menikmati*mudah-mudahan gak ada
yang salah mikir pada kalimat ini*.
Yang Kedua, Puasa.
“Wahai
sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk
menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih
menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang
belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah
penjaga baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka
pada hadits ini Rasulullah memerintahkan bagi orang yang telah kuat
syahwatnya akan tetapi belum mampu untuk menikah maka hendaknya ia
berpuasa, karena puasa dapat menjadi pemutus syahwat ini, karena puasa
menahan kuatnya anggota badan hingga badan bisa terkontrol menenangkan
seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) bisa di tahan
hingga dapat melakukan ketaatan dan di belenggu dengan kendali puasa.
Yang Ketiga, Ikhlas.
Ikhlas
yang saya maksud disini adalah ikhlas dalam melakukan sesuatu karena
Allah. Jika seseorang sudah niatnya ikhlas melakukan sesuatu karena
Allah, maka tidak ada lagi yang namanya cinta-cintaan yang berlebihan.
Karena mereka akan sadar bahwa itu hanya sementara, dan akan segera
kembali bersemangat mengejar ridha Allah.
Ibnu
Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya
ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan
menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan
lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang
dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih
dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang
buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap
sesuatu yang membahayakannya.”
Nafsu dan keinginan itu muncul jika kita sudah kehilangan akal dan keikhlasan pada Allah.
Yang Keempat, Doa.
Rasulullah bersabda,
“Tidaklah
seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa
dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan
beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2]
Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas
mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allahu akbar (Allah Maha
besar).”(HR. Ahmad)
Kalau
kita terbiasa untuk berdoa berbagai macam hal, mengapa tidak untuk hal
yang satu ini? Kalau berdoa sungguh2 untuk hal yang satu ini, insya
Allah Allah akan menghilangkan penyakit yang sangat mengganggu ini.
Yang Keempat, Pikiran Kerugian.
Untuk hal yang satu ini, silahkan baca pada paragraf diatas. Disana sudah saya jelaskan dengan panjang lebar.
Yang Kelima, Belajar dari Kisah.
Mengambil
pelajaran dari kisah para nabi atau orang sholeh yang mampu menjaga
diri ketika dihadapkan kepada fitnah wanita, seperti kisah nabi Yusuf‘alaihissalam,
betapa beliau saat digoda oleh wanita yang bangsawan lagi cantik, tapi
hal itu tidak mampu menebus tembok keimanan beliau, bahkan beliau
memilih untuk ditahan dari pada terjerumus ke dalam maksiat.
Ada
juga sebuah kisah tentang Rasulullah, waktu itu Zainab binti Jahsy
adalah istri Zaid Ibn Haritsah (bekas budak Rasulullah) yang diangkatnya
sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid Ibn Muhammad. Zainab merasa
lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh sebab, itu Zaid ingin
menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk
menceraikannya. Maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang
Zainab. Sementara Beliau pun tahu, bahwa Zainab akan dinikahinya jika
dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang-orang jika mengawini
wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dirinya. Rasa takut inilah yang
tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu Allah menyebutkan karunia yang
dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut.
Sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal
yang memang Allah halalkan baginya. Sebab Allahlah yang seharusnya
ditakuti. Jangan sampai Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam takut
berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia.
Setelah itu Allah memberitahukan, bahwa Allah langsung yang akan
menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya. Agar Beliau menjadi
contoh bagi umatnya mengenai bolehnya menikahi bekas istri anak angkat.
Yang Keenam, Memanage pandangan.
Pandangan
yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga
terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas
saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang
berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menundukkan
pandangan agar hati ini tetap terjaga. Dari Jarir bin Abdillah, beliau
mengatakan,
“Aku
bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang
pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera
memalingkan pandanganku.”
Dan
dari hal ini pula kita harus sadar, bahwa pergaulan antar jenis itu
mesti dihilangkan, kalau tak mampu yah dikurangi. Karena bisa memicu
terjadinya hal-hal ini.
Yang Ketujuh, Menyibukkan diri.
Dalam
situasi kosong kegiatan biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan
memikirkan orang yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai
pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Oleh karena itu, untuk
memangkas kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal
yang bermanfaat baik untuk dunia atau akhirat. Hakikat dari rasa rindu
adalah kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri, tanpa aktivitas
muncullah bayangan sang kekasih, wajah, gerak-gerik, dan segala yang
berkaitan dengannya. Seluruhnya hanya sekedar bayangan dan khayalan yang
berakhir dengan kesedihan diri. Tiada manfaatnya sedikit pun bagi
kehidupan kita.
Ibnul Qayyim menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata,
“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).
Yang Kedelapan, Menghindari Nyanyian dan Film Percintaan.
Nyanyian
dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan
kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut
dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati
orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya
semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik
dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan
tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan
kejernihan hati.
Dengan begini berakhirlah catatan-catatan kecil ini, ditandai dengan berakhirnya pula kegalauanku(curcol.com)
Referensi: Artikel remajaislam.com,konsultasi syariah,dll






0 komentar:
Posting Komentar